Minggu, 22 Desember 2013





INS Kayu Tanam
INS Kayu Tanam adalah lembaga pendidikan umum nasional yang didirikan di daerah Kayu Tanam. Kayu Tanam merupakan nama sebuah desa kecil di Sumatra Barat,sedangkan INS sendiri adalah sebuah lembaga pendidikan yang tersohor dengan nama RP Indonesche Nederlandsche School (Ruang Pendidikan INS) Kayutanam. INS Kayutanam didirikan oleh Engkoe Mohammad Syafei pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayutanam (sebuah desa kecil yang terdapat di Kecamatan 2X11 Kayutanam,Kabupaten Padang Pariaman,Sumatra Barat)
Berdirinya INS dilatarbelakangi sistem pendidikan pada masa pemerintah Kolonial tidak demokratis karena bersifat elit,diskriminatif dan diorientasikan pada kepentingan pemerintah penjajah.Oleh sebab itu berdirilah INS yang bertujuan untuk membangun pendidikan masyarakat Indonesia kearah yang baru yaitu memberikan kesempatan bagi berkembangnya kreativitas siswa seluas-luasnya.
Pecahnya PD II 1941 INS diduduki secara paksa oleh Belanda dan proses pembelajaran terhenti. Setelah Jepang menang tahun 1942 RP INS berubah terjemahannya menjadi Indonesche Nippon School. Di waktu tetara Jepang berkuasa corak pendidikan di Sumatera Barat pada urnumnya mengalami perubahan yang besar. Semua nama sekolah dirubah dengan bahasa Jepang, yang dijadikan mata pelajaran wajib di setiap sekolah. Murid dilatih dengan latihan kemiliteran, seperti : Seinendan, Bogodan,Heiko, Giyugun, dan lain-lain yang semuanya ditujukan untuk kepentingan peperangan Jepang, yaitu Perang Asia Timur Raya.Di zaman ini pemebelajaran merosot tajam yang disebabkan oleh sulitnya memperoleh alat-alat pelajaran dan digunakan untuk bekerja serta berlatih demi kepentingan perang Jepang. Pada zaman perang kemerdekaan INS ditutup.
Gedung INS sendiri pernah beberapa kali dihancurkan pada tahun 1948 dihancurkan karena menjadi markas tentara Belanda yang ingin menjajah kembali diIndoneia.Tahun 1957/1958 kembali dihancurkan oleh tentara Indonesia karena keterlibatan Moh.Syafei dan beberapa pengurusnya atas pemberontakan PRRI,INS dibiarkan terbelengkalai karena mereka mengungsi ke pedalaman


Diniyyah Puteri Padang Panjang
Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang merupakan pondok pesantren modern khusus puteri yang terletak di kawasan Kota Padang panjang Sumatera Barat Didirikan oleh Rahmah El Yunusiyyah pada tanggal 1 November 1923 pada zaman pemerintahan Hindia Belanda diIndonesia Rahmah El Yunusiyyah mendirikan Perguruan Diniyyah Puteri pada usia yang belum genap 23 tahun setelah mendapatkan inspirasi ketika megikti pendidikan pada Diniyyah School yang didirikan oleh kakak kandungnya Zainuddin Labay El Yunusy pada tahun 1915.

Saat ini Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang telah berkembang jauh dengan memiliki lima program pendidikan mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai sekolah tinggi. Menjelang usia 80 tahun, pada bulan Agustus 2003 Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang melakukan reegenering dalam persiapan menuju pusat pendidikan islam berbasis teknologi. Untuk itu, secara bertahap dan berkesinambungan seluruh elemen perguruan melakukan perubahan dan perbaikan besar untuk mencapai tujuan mulia “mencerdaskan generasi islam”.

Diniyyah Puteri Padang Panjang ini mempunyai Visi dan Misi yang baik yaitu Visi Menjadi lembaga pendidikan islam yang terus-menerus menyeimbangkan pola pengajaran terpadu : Alquran, hadis, dan keilmuan modern terkini dalam rangka pembentukan generasi muda islam Indonesia yang profesional, beriman, bertaqwa, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Misi Membentuk puteri yang berjiwa islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian pada Allah SWT.Mengembangkan pola pengajaran islam yang berbasis teknologi secara berkesinambungan dalam upaya memperkaya khasanah dunia pendidikan sampai akhir zaman.Merancang, mengembangkan dan memberikan solusi kehidupan dalam bentuk kajian praktis dalam rangka pengadian kepada masyarakat dan tanah air.


Perguruan Diniyyah Puteri Padang panjang memiliki beberapa program untuk masa yang akan datang, yaitu diantaranya:
1.      Meningkatkan status Perguruan Diniyyah Puteri dari Sekolah Standar nasional (SSN) menjadi   Sekolah Berstandar Internasional (SBI).
2.      Meningkatkan daya tampung dan meningkatkan sarana dan prasarana.
3.      Melaksanakan seminar dan training rutin untuk keluarga Perguruan Diniyyah Puteri dan untuk umum.
4.      Mengembangkan usaha yang telah ada dan menambah badan usaha baru.
5.      Selalu konsinten meningkatkan kualitas pendidikan yang berbasis islam dan teknologi informasi.
6.      Mengusulkan kepada pemerintah untuk mengangkat Rahmah El Yunusiyyah menjadi pahlawan nasional


Perguruan Kebangsaan Taman Siswa
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan Barat yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda terlalu intelektualistik dan materialistik, sehingga tidak dapat menjawab kebutuhan bangsa.
Diberinya kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk memasuki sekolah bumiputra yang kelak menjadi HIS, juga tidak memberi harapan yang diinginkan. Lulusan HIS dinilai tidak bermutu sebab yang diterapkan adalah sistem Eropa. Hasil pendidikan dengan sistem tersebut melahirkan anak-anak yang bertabiat kasar, kurang memiliki rasa kemanusiaan sehingga tumbuh rasa individualisme.
Melihat hasil pendidikan tidak sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia, maka dipikirkan sistem pendidikan nasional yang berdasarkan budaya bangsa Indonesia dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. Akhirnya pada tanggal 3 Juli 1922 berdirilah Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara. Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar, dan Siswa berarti murid. Ketika pertama kali didirikan, sekolah Taman Siswa ini diberi nama "National Onderwijs Institut Taman Siswa".
Setelah berdiri, maka tokoh Taman Siswa, yaitu Ki Hajar Dewantara, R.M. Sutomo Suryokusumo, R.M.H. Suryoputro, dan Ki Pronowidigdo, mengadakan pertemuan untuk menentukan sikap selanjutnya. Pendirian Taman Siswa menimbulkan berbagai kritik, baik dari kalangan bangsa Indonesia maupun dari pemerintah kolonial. Olehnya itu demi perkembangan, maka pada tanggal 20-22 Oktober 1923 diadakan kongres dengan hasil sebagai berikut:
a.       Mengumumkan bahwa Taman Siswa merupakan “Badan Wakaf” (Institut Pendidikan yang berdiri sendiri, bebas dari pemerintah).
b.      Menyatakan prinsip-prinsip Taman Siswa
c.       Menyusun kembali institutraat menjadi hoofdraat (Majelis Tinggi), yang kemudian diubah lagi menjadi Majelis Luhur.
Setelah kongres tersebut, Taman Siswa berkembang dengan pesat tidak hanya di Jawa, tetapi juga di Sumatera dan Kalimantan. Kongres Nasional pertama atau rapat besar umum Taman Siswa yang pertama diadakan pada tanggal 6-13 Agustus 1930 di Perguruan Pusat Taman Siswa yang berada di Jogjakarta hasil kongres tersebut sebagai berikut:
a.       Menerima baik alasan-alasan beridirinya Taman Siswa
b.      Mengemukakan prinsip-prinsip pedoman pendidikan Taman Siswa. Dan yang menjadi sendi-
 sendi pendidikan Taman Siswa ini adalah:
·         Taman Siswa bertujuan perkembangan nasional berlandaskan ketujuh pokok yang diterima baik dalam kongres tahun 1923.
·         Nasional Onderwijs Institut diganti menjadi perguruan Nasional Taman Siswa yang berpusat di Jogyakarta.
·         Taman Siswa merupakan suatu yayasan yang berdiri sendiri
·         Taman Siswa membentuk suatu konsolidasi, dimana tiap cabang diintegrasikan kedalamnya di bawah bimbingan perguruan pusat.
·         Taman Siswa merupakan suatu keluarga, dimana Ki Hajar Dewantara adalah bapak dan Taman Siswa di Jogyakarta adalah ibu.
·         Tiap-tiap cabang Taman Siswa mesti membantu cabang lainnya atau berprisip saling bahu membahu.
·         Taman Siswa mesti diurus sesuai demokrasi, akan tetapi demokrasi haruslah tidak mengganggu ketertiban dan perdamaian Taman Siswa sebagai keseluruhan.
c.       Memilih anggota-anggota hoofdraat.
Setelah kemerdekaan, Taman Siswa lebih meningkatkan peranannya di Indonesia. Kongres Taman Siswa di tahun 1946 merumuskan kembali pernyataan asas tahun 1922. Dikemukakan Panca Dharma sebagai dasar Taman Siswa, yang berisi kemerdekaan, kodrat alam, kebangsaan, kebudayaan, dan kemanusiaan.6)
Perguruan Taman Siswa memiliki peranan yang cukup besar terhadap perkembangan pendidikan nasional di Indonesia, yakni menanamkan semangat kebangsaan serta sikap anti penjajahan. Persoalannya sekarang adalah bagaimana menyesuaikan asas-asas yang dicetuskan dalam zaman penjajahan itu dengan kondisi sekarang.
Prinsip dasar dalam sekolah Taman Siswa yang menjadi pedoman bagi seorang guru adalah:
  Ing ngarsa sung tulada (yang di depan memberi teladan/contoh)
  Ing madya mangun karsa (di tengah membangun prakarsa/semangat)
  Tut wuri handayani (dari belakang mendukung).
Ketiga prinsip ini digabung menjadi satu ungkapan utuh: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang hingga saat ini masih tetap menjadi panduan dan pedoman dalam dunia pendidikan di Indonesia.


Perguruan Muhammadiyah

Perguruan Muhammadiyah merupakan salah satu amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan.

Pengikut Muhammad, itulah makna Muhammadiyah secara etimologi. Diambil dari nama Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Sedangkan “iyyah” dalam bahasa Arab disebut huruf syibhu atau nisbi yang artinya menyerupakan, menjeniskan, atau mengidentikkan. Sehingga dimaknai sebagai orang-orang yang mengikuti apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW lewat tingkah laku yang berlandaskan Alquran dan Assunnah.
Pendiri Muhammadiyah adalah KH. Ahmad Dahlan yang lahir pada tahun 1868 M. Beliau adalah putera yang lahir dari pasangan KH. Abu Bakar yang menjadi Khatib di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta (Masjid Gede di Kauman) dan istrinya yang dikenal dengan sebutan Nyai Abu Bakar.
Sebenarnya sudah sejak 1905, K.H.A. Dahlan telah banyak melakukan dakwah dan pengajian-pengajian yang berisi faham baru dalam Islam, yang menitikberatkan kepada amaliyah. Bagi beliau, Islam adalah agama amal, suatu agama yang mendorong umatnya untuk banyak melakukan kerja dan berbuat sesuatu yang bermanfaat. Dengan bekal pendalaman beliau terhadap Alquran dan Sunnah Rasul, sampai pada pendirian dan tindakan yang banyak bersifat pengamalan isi dalam kehidupan.
Enam tahun kemudian, pada tahun 1911 Kyai Dahlan mendirikan “Sekolah Muhammadiyah” yang bercorak modern, menempati sebuah ruangan dengan sepasang meja-kursi dan papan tulis. Dalam sekolah tersebut, dimasukkan pula beberapa pelajaran yang lazim diajarkan di sekolah-sekolah Belanda seperti ilmu bumi, ilmu alam, ilmu hayat, dan sebagainya. Begitu pula diperkenalkan cara-cara baru dalam pengajaran ilmu-ilmu keagamaan sehingga lebih menarik dan meresap. Dengan murid yang tidak begitu banyak, jadilah sekolah Muhammadiyah sebagai tempat persemaian bibit-bibit pikiran-pikiran pembaharuan dalam Islam di Indonesia. Dan satu tahun kemudian, tepatnya 8 Dzulhijjah 1330 H yang bertepatan dengan tanggal 18 November 1912  M, Kyai Ahmad Dahlan dengan bantuan beberapa orang murid dan sahabatnya, dengan resmi mendirikan Muhammadiyah.
Masa kepemimpinan KHA Dahlan (1912-1923) merupakan masa perintisan, pembentukan jiwa dan amal usaha serta organisasi. Sehingga program-program yang dibuat oleh beliau diarahkan pada pembentukan jiwa dan amal usaha serta organisasi. Kondisi agama, sosial, politik, dan ekonomi masa itu yang pada umumnya kurang baik.
Keberpihakan,berbicara Muhammadiyah adalah berbicara keberpihakan. Berpihak pada kaum lemah dan terpinggirkan (proletar). Melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. 
Kiprah keberpihakan Muhammadiyah bagi bangsa dan negara tidak lagi diragukan. Di usianya yang kini menginajak 100 tahun, Muhammadiyah memiliki sepak terjang yang ulet bagi pembangunan pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Menurut data yang diperoleh oleh penulis, hingga kini Sekolah Dasar (SD) berjumlah 1132, Madrasah Ibtidaiyah/Diniyah (MI/MD) berjumlah 1769, Sekolah Menengah Pertama (SMP) berjumlah 1184, Madrasah Tsanawiyah (MTs) berjumlah 534, Sekolah Menengah Atas (SMA) berjumlah 511, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berjumlah 263, Madrasah Aliyah (MA) berjumlah 172, Pondok Pesantren berjumlah 67, Akademi berjumlah 55, Politeknik berjumlah 4, Sekolah Tinggi berjumlah 70, Universitas berjumlah 36 (Profil Muhammadiyah tahun 2005).
Bagi Muhammadiyah, pendidikan adalah sebuah investasi yang sebagian besar orang percaya akan hasilnya di masa depan. Muhammadiyah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan adalah sebuah lembaga sosial-keagamaan yang concern dalam bidang pendidikan dan usaha sosial lainnya. Karena Ahmad Dahlan percaya bahwa pendidikan adalah salah satu cara strategis untuk memajukan kehidupan umat Islam. Pilihan itu tentu tidak lahir dari pikiran spontanitas, akan tetapi lewat proses berpikir yang panjang dan matang. 
Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah lebih awal mengumandangkan pendidikan baru dan modern dimana perpaduan pendidikan barat dan Islam bercampur menjadi satu dengan perpaduan yang amat bagus dalam rangka membangun pendidikan yang efektif. Dari awal, konsep pendidikan Muhammadiyah adalah pendidikan yang membebaskan yaitu membebaskan dari kejumudan berfikir orang-orang yang menolak pendidikan ala barat yang sebenarnya tidak merugikan bahkan justru membantu efektifitas dan efisiensi pemberian pendidikan.
Disamping membebaskan, pendidikan Muhammadiyah juga menghidupkan dimana menghidupkan semua sisi pendidikan karena tuntutan perubahan zaman yang ada dan tidak menentang aturan agama atau secara syar'i.
Hingga kini, Muhammadiyah tetap membangun komunikasi yang baik dengan para pengusaha untuk membangun sekolah-sekolah dari taman kanak-kanak hingga kampus perkuliahan untuk para orang miskin yang membutuhkan dan susah untuk mengenyam pendidikan. Semoga di umur 100 tahun ini, Muhammadiyah tetap konsisten mensyiarkan pendidikan keberpihakan.



Nama              : Maghfirah Vivin Umami
Kelas               : 1B
NIM                : 13310079
Jurusan            : Pendidikan Matematika