Minggu, 22 Desember 2013



DIANTARA HIDUP DAN MATI


Gemuruh suara ledakan-ledakan bom dan suara letupan-letupan senjata api dan peluru-peluru yang melejit dari  tank membuat suasana semakin mencekam. Lubang-lubang besar bekas ledakan yang tergenang air hujan tersebar di penjuru sudut-sudut kota. Reruntuhan batu-bata perumahan berserakan di sepanjang jalan ,bongkahan-bongkahannya masih bertahan di lokasi perumahan. Di ujung jalan persimpangan di balik bongkahan-bongkahan ada dua anak yang bersembunyi dari kekejaman para tentara musuh.

“Kak,aku takut.Apakah mereka akan membunuh kita?,” tanya Reriko pada kakanya,sambil menangis ketakutan.

“Re diamlah ,nanti mereka bisa menemukan kita.Berhentilah kamu menangis,”ujar Raizo pada adik perempuannya itu.

Reriko menghentikan tangisnya,ia terdiam sambil memegang erat tangan Raizo dengan sekuat tenaga.Bagaimana tidak, seorang gadis kecil berumur 7 tahun pasti ketakutan saat dalam keadaan seperti itu.Para tentara musuh itu tidak pandang buluh,siapapun penduduk di kota itu yang mereka temui laki-laki atau perempuan baik orang dewasa atau anak kecil akan mereka siksa habis-habisan,beruntung jika tak dibunuh oleh mereka. Keluarga Raizo dan Reriko adalah salah satu korban dari kebiadaban tentara musuh yang tak berperi kamanusiaan itu,mereka mati mengenaskan oleh peluru-peluru tentara musuh.

Saat Raizo mulai kehilangan suara kendaraan tentara musuh itu,barulah ia berani keluar dari persembunyian dan mengajak Reriko berlari secepat-cepatnya untuk mencari tempat yang lebih aman.Namun malangnya saat berlari Reriko terjatuh karena sandungan reruntuhan batu bata di jalan.

“Aduh,sakit kak.”

“Kenapa Re ?ayo bangun kita harus bergegas.”

“Tidak kak,kakiku sakit aku tak mau berlari lagi.”

“Ayo cepat naik ke punggung kakak,kakak akan menggedongmu.”

Dengan sekuat tenaga Raizo berlari sekencang-kencangnya sambil menggendong Reriko,hingga saat di suatu lorong ia berhenti .Ia menurunkan Reriko dan mengatur nafasnya.

“Kakak capek,Re pijit ya kak.”

Raizo hanya menjawab adiknya dengan senyum,sambil terengah-engah mengatur nafasnya.Beberapa hari mereka bersembunyi di tempat itu,mereka tak makan ataupun minum.

“Kak,Re lapar sekali,” gerutu Reriko sambil memegangi perutnya.

“Re tunggu disini ya,kakak akan mencari makan untukmu.”

“Kak, jangan tinggalin Re,Re mau ikut kakak saja,Re nggak mau nunggu disini.”

“Tapi Re,di luar  sangat berbahaya.”

“Pokoknya Re mau ikut.”


Tiba-tiba dari dalam lorong terdengar suara langkah kaki. Re dan Raizo ketakutan,mereka berpegangan erat-erat.Mereka mengira bahwa sosok itu adalah tentara musuh yang akan menyiksa ataupun membunuh mereka.

“Hei,kalian berdua janganlah takut,aku bukan tentara musuh.”

“Lalu anda ini siapa,”tanya Raizo sambil memeluk Re.

“Saya Takashi,panggil saja saya paman Taka,kalian hanya berdua?.”

“Iya paman,paman saya mohon jangan usir kami.”

“Paman tak ingin mengusir kalian.Siapa nama kalian?.”

“Saya Raizo paman,dan ini adik saya namanya Reriko.”

“Salam kenal,mari ikut paman tadi paman dengar adikmu lapar.”

“Baik paman.”

Mereka mengikuti langkah laki-laki setengah baya itu.Paman Taka membawa mereka menuju tempar persembunyiannya.Paman Taka merasa kasihan kepada dua anak tersebut.

“Paman baik sekali pada kami,”ujar Reriko.

Paman Taka tersenyum,mendengar ucapan Reriko.

“Ayo bergegas,kalian pasti kelaparan,di tempat paman ada makanan.Cukuplah untuk mangganjal perut,”ujar Paman Taka .

Sesampainya di tempat paman Taka ,mereka makan bersama. Akhirnya setelah berhari-hari menahan lapar mereka bisa makan.Beberapa bulan mereka tinggal bersama paman Taka,paman Taka amat baik pada mereka karena ia menganggap mereka sebagai anak yang harus dilindungi dari kekejaman tentara-tentara musuh itu.Suatu hari persediaan makanan paman Taka habis,paman Taka berencana  keluar dari tempat persembunyian untuk mencari makanan.

“ Re,Raizo hari ini paman mau keluar mecari makanan kalian tunggu disini saja.”

“Paman aku mau ikut dengan paman,aku mau membantu paman mencari makanan,”sahut Raizo.

“Kamu mau ikut,baiklah.Tapi salah satu diantara kalian harus ada yang menjaga tempat kita ini.”

“Biyar Re yang tinggal paman,paman dan kak Raizo tenang saja aku pasti akan menjaga tempat ini.”

“Hati-hati Re, Raizo ayo cepat kita pergi,”ujar paman Taka.

“Baik paman ,”jawab Raizo.

Paman Taka dan Raizo keluar lewat lorong .Mereka berencana untuk mencuri makanan para tentara musuh itu .Beruntung tanpa sepengetahuan para tentara musuh mereka mendapatkan banyak sekali persediaan makanan.Mereka lagsung bergegas untuk kembali ketempat persembunyian mereka.Dari lorong gelap terdengar suara langkah kaki,Reriko ketakutan ia mengira bahwa itu adalah langkah kaki para tentara musuh yang telah mengetahui tempat persembunyian mereka.Keringat dingin membasahi tubuhnya, ia bersembunyi sambil membawa tongkat besbol di tangan kanannya.Ia berencana saat orang tersebut melintas ia akan memukulnya.Saat suara langkah itu semakin mendekat Reriko mengangkat tongkat itu dan memegang dengan kedua tangannnya,ia hendak menghantamkan pukulan pada orang itu.

“ Re,berhenti Re ini kakakmu,”teriak Raizo.

Re kaget,kemudian ia tak jadi menghantamkan pukulannya itu.Ia langsung terhenti ,sekujur tubuhnya bash karene keringat dingin.Kemudian ia mengatur nafasnya sambil menenangkan dirinya.

“Ada apa denganmu Re ?,”Tanya Raizo.

“Maaf paman,kak aku kira tadi itu adalah tentara musuh.Jadi aku ketakutan.”

“Hufttt,untung saja Re kamu tidak memukulku,”ujar Raizo.

“ Dengan keadaan seperti ini,masuk akal juga kalu Re mengira kita adalah Tentara musuh,”sahut paman Taka.

”Ayo kita masuk,dan tenengkanlah dirimu Re,”tambah paman Taka.

Merekapun masuk bersama.Dan saat Re melihat hasil yang dibawa paman Taka dan Raizo ia bergeges menyiapkan meja makan.Saat dimeja makan terjadi suatu perbincangan.

“Kak ,Re ingin sekali melihat dunia di luar lorong ini,apakah kakak mau mengajakku keluar.”

“Kamu bosan ya Re kalokita bersembunyi terus?.”

“Tidak begitu kak,aku hanya ingin menghirup udara luar.”

“Ide mu bagus juga Re,paman setuju tapi kita harus keluar dengan hati-hati.Jangan sampai para tentara musuh itu melihat kita berkeliaran di luar,”sahut paman Taka.

“Tapi paman, diluar kan sangat berbahaya,”celetuk Raizo.

“ Maka dari itu,kita harus tetap berhati-hati jangan sampai kita lengah.Lagi pula kalo disini terus juga tidak baik,kita perlu menghirup udara kebebasan di luar sana,pasti akan menyenangkan,”ujar paman Taka untuk meyakinkan Raizo.

“Aku setuju dengan ucapan paman,”sahut Re.

“Kamu itu Re,tentu saja kamu setuju itukan ide kamu,”ujar Raizo.

“Sudah-sudah sekarang waktunya kita makan.Tak baik berbicara di meja makan,”sahut paman Taka.

Haripun semakin malam,namun suara-suara letupan senjata api itu tak pernah tidur,teriakan-teriakan orang meminta pertolongan sering terdengar sayup-sayup dari lorong tempat persembunyian mereka. Suara itu mengiringi tidur mereka disetiap malam.Walau mata mereka tertidur.Tapi kewaspadaan mereka tetap terbangun untuk para tentara musuh yang mengancam keslamatan mereka kapanpun.Hari-hari mereka di jalani seperti teka-teki misteri kubus rubik yang tak terbaca.Entah kapan perang ini usai,entah kapan mereka merasa kemerdekaan lagi.Menjalani hari-hari penuh dengan ketegangan.

Pagi itu tetap saja seperti biasa,bagaimana tidak pernag tak kunjung berhenti di tempat itu.

“Kak,kapan kita menghirup udara luar,”Tanya Re.

“Aku tak tau,tanyalah kau pada paman Taka.”

“Paman!kapan kita keluar,”Tanya Re.

“Kau ingin pergi kapan Re,”jawab paman Taka.

“Tentu secepatnya paman,bagaimana kalau hari ini,”Tanya Re.

“Baik,kita pergi hari ini.bersiap-siaplah kalian,”seru paman.

“Tak ada yang dapat kami siapkan paman,”sahut Raizo.

“Kalo begitu bergegaslah ,ayo kita pergi,”jawab paman.

Merekapun pergi bersama penuh dengan kewaspadaan,merek pergi dengan sembunyi-sembunyi baik di balik semak-semak perdu ataupun bongkahan-bongkahan batu di sepanjang perjalanan menuju sebuah danau kecil,yang terletek tersembunyi di kota itu.Saat sampai mereka memanfaatkan waktu untuk menghirup udara luar,karena mereka tak dapat berlama-lama di tempat itu.Setiap terdengar suara apapun mereka meningkatkan kewaspadaan mereka.Tanpa sepengetahuan mereka ternyata ada tentara musuh yang memperhatikan mereka dari kejauhan,secara diam-diam tentara musuh itu menyergap mereka.Dan merekapun kaget dan ketakutan berusaha untuk menyelamatkan diri masing-masing agar tak tertangkap oleh tentara musuh itu.Sekuat tenaga mereka berlari untuk kabur.Namun sayangnya Raizo tertangkap oleh tentara musuh itu,langkah Re dan paman Taka agak terhenti.

“Kakak!,”teriak Re.

“Ayo Re cepat lari,ayo cepat .”

“Tapi kak.”

“Cepatlah Re jangan sampai kau tertangkap,”teriak Raizo.

Re menangis ketakutan dan ia tak tega meninggalkan kakaknya,namun paman Taka mencegahnya berlari menuju kakaknya.Paman Taka menarik Re dan memintanya untuk berlari terus,Re tak menghiraukannya.Akhirnya Paman Taka menggedongnya dan membawanya berlari sejauh-jauhnya dan Re hanya menangis di sepanjang jalan memanggil-manggil kakaknya.Re tak mengira bahwa permintaannya akan menyebabkan kejadian seperti ini,padahal hanya tinggal satu-satunya keluarga yang Re miliki,namun ia harus kehilangan kakaknya.Re tak tau lagi seperti apa nasib kakaknya,ia berharap kakaknya masih hidup dan dapat bertemu lagi dengannya,namun harapan hanyalah sebuah harapan.Tak ada yang tau kabar Raizo lagi,ada dimana dia dan bagaimana keadaannya.Raizo bagaikan lenyap di telan bumi.Sepanjang hari Reriko tenggelam dalam kesedihannya,ia sibuk memikirkan Raizo.Menangis di sepanjang hari hingga tak tau kapan air matanya itu akan habis.Dan sampai kapanpun air matanya itu tak bisa mengembalikan kakanya.Re bagai dihempaskan kedalam jurang paling dalam,curam,dan gelap.Dan saat Re berteriak sekuat tenaga hanya gema suaranya sendiri yang terdengar.






Karya; Maghfirah Vivin Umami

Tidak ada komentar:

Posting Komentar